Select Menu

clean-5

Wisata

Budaya

Kuliner

Surat Untuk Layla: Kesepian yang Sempurna


Layla, semoga selalu damai di sana. Pagi ini aku ingin bercerita banyak sekali, tak peduli apakah kau akan datang membacanya atau tidak. Saking banyaknya cerita, rasanya ingin kubuka kepalamu dan kutuangkan ceritaku seperti hujan yang deras di bulan Desember. Pagi ini aku merasa sangat sepi. Bukan, bukan hanya pagi ini. Sudah ratusan pagi berlalu dalam sepi seperti ini. Ratusan petang. Ratusan malam. Rasa sepi yang membuatku rindu zaman kita muda dulu. Zaman itulah zaman yang ramai, yang hangat, yang meletakkan nilai senyuman dan sapaan pada tempat terhormat, berbeda dengan hari-hari ini, dimana kebanyakan penduduk bumi asyik dengan dunianya sendiri, dibelenggu teknologi, gadget, dan internet.

Awalnya semua ini seperti anugerah, Layla. Kami pun larut dalam euforia yang berisik sekali. Asyik berjam-jam di depan layar komputer dan telepon pintar. Seperti bahagia (dan bangga) punya ribuan friend dan follower. Sampai akhirnya kesadaran itu datang. Ini semua ilusi!!!

Ini zaman yang sepi. Ribuan orang mencurahkan isi pikiran dan emosi dalam hitungan menit di dinding facebook atau twitterku, tapi aku sepi. Puluhan orang menyapa di bbm, whatsapp, email, facebook, twitter, line, dan macam-macam aplikasi. Beragam warna, tapi sekarang warnanya terlihat satu: pucat pasi.

Setiap hari ada ribuan orang yang lewat dalam kehidupanku, tapi mereka tidak benar-benar dekat denganku. Aku sepi. Aku cuma butuh 6-7 orang saja. Bukan ribuan orang. Aku butuh beberapa orang yang benar-benar bersama membelai petang, menari di bawah hujan, berlari di antara genangan becek, tertawa renyah sambil duduk di depan rumah, tanpa diganggu alam ilusi teknologi.

Yah, alam ilusi, yang mengobral banyak emoticon, jempol, dan segala basa-basi kosong, yang benar-benar tak membuat hilang dahaga akan alam yang penuh keakraban dan kehangatan. Apa namanya ini??? Layla, datanglah dan jenguk aku sekarang. Hal-hal yang dulu kau puji tentangku sudah tidak ada lagi. Sudah hilang. Di tengah keluargaku, aku sibuk memandang layar ponsel cerdas, mereka juga sama, kami jadi benar-benar bodoh oleh perangkat cerdas itu. Di tengah sahabatku, aku pun begitu. Mereka juga begitu. Kami semua bodoh. Kami semua sepi. Kami hidup di alam ilusi. Entah kapan berakhir. Ini seperti samudera yang amat luas. Samudera yang tak punya tepi, yang tak bisa melihat apa-apa kecuali kesepian yang sempurna. Aku berharap badai. Aku berharap ombak besar. Aku berharap bisa terdampar ke tepian. betapa pun buruknya daratan, asal buka ilusi. Aku mau. Aku mau.

Layla, jangan bosan membaca keluhanku bersama surat kali ini. Sebab aku jauh lebih bosan dengan diriku. Aku sudah amat sepi. Kasihanilah lelaki ini, Layla. Kasihanilah lelaki yang telah dirampas kebahagiaannya oleh teknologi. Pagi ini dia mencari-cari daratan yang bisa membebaskannya dari lautan ilusi. Dia teringat lima belas tahun lampau, dimana daya magis surat dan tukang pos membuncah kebahagiaan yang mendebarkan, dimana menunggu hasil cetakan foto selama dua hari amat menyenangkan, dimana berjanji di sudut jalan sangat menggairahkan karena janji telah dibuat seminggu sebelumnya, lalu tidak ada komunikasi lagi hingga pertemuan itu, dimana satu jam saja pertemuan sangat berarti karena benar-benar full satu jam, tak ada jeda update status, membaca wall dan timeline. Kasihanilah lelaki ini, Layla...

Sekarang semua itu telah hilang. Aku mulai pesimis bahwa ia tidak mungkin kembali. Dulu kita menunggu orangtua kita dari pasar dengan bayangan yang sangat indah, kita akan menyambut belanjaannya, mencari kue atau buah-buahan kesukaan kita diantara sayur belanjaannya, sekarang anak-anak dilengahkan oleh gadget, bahkan dia tak terlalu peduli jam berapa ibunya akan pulang. Dulu kita merasakan kehangatan kontak mata, senyuman, dan obrolan-obrolan yang penuh kebahagiaan secara sempurna, kini berganti ilusi. Aku butuh 6-7 orang saja tapi dengan suasana 15 tahun lalu itu. Aku tak butuh ribuan friend dan follower, ratusan kontak nama dan pin bbm. Aku letih dalam sepi ilusi ini. Kasihanilah lelaki ini, Layla...

Sekarang aku dan jutaan orang di dunia ini harus kau ajarkan bagaimana menjadi pendengar yang baik, menjadi sahabat yang hangat, menjadi pasangan yang peduli dan peka, menjadi anak yang menghargai keberadaan orangtuanya, menjadi orang tua yang mensyukuri anak-anaknya. Sekarang aku kehilangan makna perjalanan, makna kebersamaan, makna berkunjung ke kota teman, makna kehadiran, makna kenalan di alam nyata saat antri atau menunggu bis. Kasihanilah lelaki ini, Layla...

Sekarang bahkan aku kehilangan kemampuan berimajinasi sebelum tidur, tentang indahnya pertemuan yang kurancang besok dengan orang-orangyang dekat denganku. Kehilangan konsentrasi dan kekhusukan dalam melakukan apa saja. Ada banyak nama, tapi tak bernyawa. Tak mengisi apa-apa ke dalam kekosongan jiwa dan kehampaan hidup, padahal sedang berada di dalam keramaian yang bising. Kasihanilah lelaki ini, Layla. Kasihanilah...

Ankara, 30 Mei 2014
Faris BQ


*foto dari motherfridayshow.com

Padamu Pilihan (Terjemahan)

Padamu Pilihan

Oleh: Nizar Qabbani

Kuserahkan padamu pilihannya;
Pilih mati di dadaku atau di atas goresan puisi-puisiku
Pilih cinta atau tidak-cinta
Tak memilih berarti pengecut
Sebab tak ada ruang lain antara surga dan neraka.

Lemparkan semua proposalmu
Aku terima apapun isinya.
Berkatalah
Tuangkanlah emosi
Bahkan meledaklah
Daripada hanya mematung
Aku tak mungkin selamanya diam diri
seperti jerami di bawah hujan.

Engkau lelah? Atau mungkin takut?
Memang perjalanan ini akan sangat panjang
Pilihannya seperti memutuskan terjun ke laut atau menjauh saja.

Tiada laut tanpa ombak
Dan cinta itu perjuangan besar melawan arus
Mungkin terbunuh. Ada siksa. Juga air mata.
Cinta itu bak kabur ke angkasa
Dan rasa takutmu membunuhku, Duhai wanita.

Apakah kau cuma berani nyaman di balik tirai?
Sedangkan aku tidak percaya pada cinta;
yang tak punya semangat pemberontak
yang tak meruntuhkan semua dinding,
yang tak mengganas seperti badai,
Oh, andai cintamu yang menggulungku
menumbangkan seperti badai.

Kuserahkan padamu pilihannya;
Pilih mati di dadaku atau di atas goresan puisi-puisiku
Sebab tak ada ruang lain antara surga dan neraka.

_______________________________________

إني خيرتُكِ فاختاري
ما بينَ الموتِ على صدري..
أو فوقَ دفاترِ أشعاري..
إختاري الحبَّ.. أو اللاحبَّ
فجُبنٌ ألا تختاري..
لا توجدُ منطقةٌ وسطى
ما بينَ الجنّةِ والنارِ..
إرمي أوراقكِ كاملةً..
وسأرضى عن أيِّ قرارِ..
قولي. إنفعلي. إنفجري
لا تقفي مثلَ المسمارِ..
لا يمكنُ أن أبقى أبداً
كالقشّةِ تحتَ الأمطارِ
إختاري قدراً بين اثنينِ
وما أعنفَها أقداري..
مُرهقةٌ أنتِ.. وخائفةٌ
وطويلٌ جداً.. مشواري
غوصي في البحرِ.. أو ابتعدي
لا بحرٌ من غيرِ دوارِ..
الحبُّ مواجهةٌ كبرى
إبحارٌ ضدَّ التيارِ
صَلبٌ.. وعذابٌ.. ودموعٌ
ورحيلٌ بينَ الأقمارِ..
يقتُلني جبنُكِ يا امرأةً
تتسلى من خلفِ ستارِ..
إني لا أؤمنُ في حبٍّ..
لا يحملُ نزقَ الثوارِ..
لا يكسرُ كلَّ الأسوارِ
لا يضربُ مثلَ الإعصارِ..
آهٍ.. لو حبُّكِ يبلعُني
يقلعُني.. مثلَ الإعصارِ..
إنّي خيرتك.. فاختاري
ما بينَ الموتِ على صدري
أو فوقَ دفاترِ أشعاري
لا توجدُ منطقةٌ وسطى
ما بينَ الجنّةِ والنّارِ..


Ankara, 15 Mei 2014
FBQ

Cintai Aku Walau Tanpa Janji (Terjemahan)


Cintai aku walau tanpa berjanji
Tersesatlah di garis tanganku
Cintai aku seminggu saja, sehari, atau sesaat
Sebab aku tak peduli cinta abadi.
Yang penting cintai aku, cintai, cintai.

Ke sinilah
Dan jatuhkan hujanmu ke atas haus dan saharaku
Larut di mulutku seperti lilin
Leburkan seluruh aku
Begitulah, cintai aku, cintai, cintai.

Cintai aku dengan segala suci dan nistaku
Teduhi aku dengan atap yang kau buat dari kelopak mawar
Engkaulah hutan Hena
Sedangkan aku pria tanpa bagian apa-apa 
Maka jadilah engkau bagianku
Begitulah, cintai aku, cintai, cintai.

Cintai aku
Tanpa tanya bagaimana
Tanpa diombang sungkan
Tanpa digugurkan rasa takut.

Jadilah laut sekaligus dermaga
Jadilah tanah air sekaligus pengasingan
Jadilah cerah sekaligus badai
Jadilah lembut sekaligus kasar

Cintai aku penyiksa batinku
Laruti aku di udara semaumu
Cintai aku dan bawa aku 
menjauh dari negeri yang penuh penindasan
menjauh dari kota kita yang penuh aroma kematian
Begitulah, cintai aku, cintai, cintai.


(Terjemahan dari Ahibbiini bila 'Uqd, Kazem Saher)

أحبيني بلا عقد
وضيعي في خطوط يدي
أحبيني لإسبوع.. لأيام ... لساعات
فلستُ أنا الذي يهتمُ بالأبد
أحبيني ... أحبيني... أحبيني

تعالي و اسقطي مطرا
على عطشي و صحرائي
وذوبي في فمي كالشمع
وانعجني بأجزائي
أحبيني...

أحبيني بطهري أو بأخطائي
و غطيني .. أيا سقفا من الأزهار
يا غابات حناءِ..
أنا رجلٌ بلا قدر ٍ فكوني أنتِ لي قدري
أحبيني...

أحبيني ولا تتساءلي كيفا ...
ولا تتلعثمي خجلا... ولا تتساقطي خوفا...
كوني البحر و الميناء
كوني الأرض و المنفى
كوني الصحو و الإعصار
كوني اللين و العنفا

أحبيني معذبتي...
وذوبي في الهوا مثلي كما شئتي..
أحبيني بعيدا عن بلاد القهر و الكبتِ
بعيدا عن مدينتنا التي شبعت من الموتِ
أحبيني... أحبيني ... أحبيني


*Sudah lama tak menerjemahkan sajak dan syair Arab. Semoga masih bertenaga.

Ankara, 4 Mei 2014


Manfaat Kegagalan


1. Apa reaksimu , itulah sebenarnya dirimu.

2. Banyak peran yg kita kerjakan di dunia, jd amat wajar pd salahsatunya kita gagal. Bangkitlah , sebab itu yg bedakan dirimu!

3. Kita keliru krn kdg berpikir diri kita adl superman, batman, spiderman, dll. Itu hayal. Itu bukan manusia.

4.Perasaan rendah, terpuruk, kalah, atau bersalah, stlh gagal adl manusiawi. Tp kita hrs melindungi diri agr tak berpanjangan.

5. Jgn menceritakan kisah gagal kita berulang-ulang. Itu hy melumpuhkan kemampuan menyerap hikmah dari kegagalan.

6. Jika gagal pd peran sosial, luangkan waktu utk bersendirian bbrp saat. Jika gagal dlm peran individual, keluarlah berbaur.

7. Itu membuatmu segera menyadari ada byk warna dlm hidup, dan keruntuhan pd satu bidang tdk membuat kiamat slrh kehidupan. .

8. Kegagalan kdg menyapa utk mengajari kita keterampilan melupakan. Byk penderitaan jd brkepanjangan krn tak pandai melupakan.

9. Depresi disebabkan kemampuan menghapus penderitaan melemah. Lupa, sesungguhnya, sering mjd nikmat yg amat berharga.

10. Nasehat sekuat apapun di sekelilingmu, akan lumpuh jika kau 'bertahan' mencumbui kegagalanmu. Jgn tahan, tp lupakan.

11. Kegagalan juga kdg datang utk mengoreksi optimismemu hrs realistis. Jgn menargetkan utk diri dg standar org lain.

12. Efek baik kegagalan adl emosi jd lbh kuat. Manfaat itu kdg lbh besar dari kesuksesan pd apa yg tgh kita perjuangkan.

13.Kegagalan mendidikmu lbh dewasa memutuskan sesuatu. Masa depan tak berhenti saat gagal. Kita msh akn membuat byk keputusan.

14. Dan, sering kita sadar di kemudian hari bhw kegagalan hari ini dikirim utk menyelamatkan kita dari kegagalan yg lbh fatal.

15. Kegagalan adl latihan utk jujur kpd diri sendiri akan batas kemampuan kita atau lemahnya usaha kita.

16. Kegagalan kdg semacam teguran agar kita tak egois. Sekuat apapun, kita butuh orang lain.

17. Amat penting, kegagalan adl evaluasi seberapa jauh kita pd Allah. Semua yg terjadi adl di bawah kodrat&iradah Allah.

18. Kegagalan adl masalah. Jk dg diri sndiri selesaikan saat itu juga. Jk dg org lain tunggu waktu paling tepat, jgn tergesa2.

19. Jadi, apa makna di balik kegagalan? Maknanya ada pd sikap kita , bukan saat gagal.

20. Sekian. Ini tak bermaksud menggurui, hy berbagi dari org yg pernah gagal jutaan kali. . Terima kasih.


*dari tweet @farisbq dengan hashtag #setelahgagal

Ankara, 13 Desember 2013

FBQ

Wanita Berwajah Surga yang Rutin Bertamu


"Tingtong..."

Bel berbunyi nyaring dari arah pintu rumah, sebuah apartemen di lantai dasar yang mulai kudiami bulan lalu. Siapa lagi yang bertamu pada cuaca seburuk ini? Pikirku sambil berjalan menuju pintu, menyembullah seorang wanita pemilik wajah surga. Sejak pindah ke sini, dia rutin bertamu. Dan seperti biasa, hanya sebatas pintu, tidak pernah benar-benar masuk. Aku jatuh cinta pada senyuman yang terbit dari wajah teduhnya, terbit keriangan yang terpancar dari kebaikan hatinya.

Pada kebekuan Desember, bukan tanpa perjuangan ia tetap keluar mengunjungiku dan dua orang sahabat yang tinggal seapartemen denganku di kondisi musim seperti sekarang. Sisa salju yang turun dua hari lalu masih belum pergi dari atas trotoar, bahkan jadi jelek dan licin. Cuaca, alih-alih membaik justru semakin mengintimidasi. Sudah dua-tiga kali aku mengecek aplikasi info suaca di smart phone, tak berubah : minus sembilan. Benar-benar pekan yang buruk di kota ini, udara berlari-lari pada lingkaran -3 hingga -14 derajat celcius saja.

Wanita itu kadang datang sendirian, kadang ditemani suaminya, ia adalah pemilik sebuah restoran di jalan utama yang lumayan jaraknya ke bangunan tempat kutinggal. Kami memanggilnya Teyze (bibi), tanpa tahu namanya. Wajahnya amat teduh, usianya sekira 47-52 tahun. Dia ke sini, sekali lagi, hanya sebatas pintu, tersenyum, menegur kami singkat, menyerahkan makanan dengan menu Turki yang komplit, lalu tukar menukar doa. Itu saja.

Kedatangan sepasang 'malaikat' ini tak terlepas dari jasa baik tetangga kami, juga kami panggil Teyze, juga tak kami ketahui namanya. Orang-orang ini memang suka memberi dan tidak suka dikenal. Teyze sebelah rumah kami ini telah bertamu sejak hari pertama, katanya ingin tahu siapa tetangga barunya, lalu nanya-nanya apa yang kami butuhkan. Modus banget, tapi modus baik.

Sejak itu dia mengantarkan kami banyak perabot dari mana-mana, mulai yang besar seperti kursi di ruang tamu, karpet, hingga selimut, bantal, serta perabot dapur. Katanya, teman-temannya di kelompok kursus Al-Qur'an di masjid amat suka memberi. Ketika dia ceritakan ada pelajar yang baru pindah, semua berlomba memberi. Begitulah rumah kami yang awalnya kosong itu terisi segala macam perlengkapan rumah dengan gratis.

Setengah bertengkar kubilang, "Sudah cukup. Sudah lengkap." Dia tak percaya. Pernah dia masuk ke rumah, seperti polisi memeriksa serata penjuru, ke ruang tamu, kamar, dapur, membuka lemari perabot masak, melongokkan kepala ke kamar, dan mendata apa-apa yang tidak ada. Besoknya, ia membawa semuanya.

Suatu hari datang lagi, membawa nama pengusaha yang dermawan, "Kalian datangi toko ini, imam masjid sudah menghubunginya dan ia akan memberi kalian semacam beasiswa tambahan tiap bulan." Kami belum sempat ke sana, juga masih berpikir-pikir, masih ada yang lebih layak.

Beberapa hari setelahnya, datanglah sahabat Teyze yang lain, pemilik restoran, ya wanita berwajah surga itu, pandangan pertama sudah mengumumkan kejernihan hati dan kebaikannya. Ia membawa makanan buat kami dan berkata lembut sekali, "Mulai hari ini kalian jangan masak ya, Nak. Kami yang akan mengantar makanan untuk kalian setiap hari. Setiap hari kecuali akhir pekan karena restoran kami tutup pada akhir pekan."

Sejak itu, wanita berwajah surga rutin mengunjungi kami. Amat mengharukan. Amat menggetarkan. Ini benar-benar kebaikan tak bersyarat. Bagaimana tidak, diberikan dengan tulus tak berharap apa-apa, rutin, yang bagus-bagus, kepada orang yang belum mereka kenal sebelumnya.

"Ya Allah, terima kasih. Balaslah mereka semua dengan surga." Kami cinta dan berdoa untukmu, Teyze. Cuma bisa itu, sambil menjinakkan hati yang bergetar haru, bermuara ke linangan bola mata yang mulai hangat di musim salju.


Ankara, 12 Desember 2013

FBQ

interaksi di twitter @farisbq

Selamat Ulang Tahun Kedua GIA

foto dari blog Gema Ilmiah Ankara

10 Desember 2011, bisa jadi hari biasa. Bangun tidur di kamar kecil berisi empat orang mahasiswa di pojok lantai 3 dekat jalan raya, shalat Shubuh di mushalla yang berada di lantai 4, lantai paling atas bangunan hostel Cebeci blok B, menunggu pagi dengan membaca, lalu membuka jendela karena berharap sinar matahari akan mengurangi kebekuan. jam depalan, turun ke kantin di lantai dasar, sarapan ekmek dengan irisan keju, sebutir telur rebus, dan beberapa biji zaitun hitam. Lalu menjelang siang berjalan-jalan menyusuri Kurtulus Park yang rimbun hingga Kizilay, pusat kota Ankara yang padat.

10 Desember 2011, bisa jadi hari biasa. Makan siang di restoran Turki pilihan, karena harganya yang murah tapi paling mengenyangkan karena ada menu nasinya, menu wajib Indonesia. Lalu bersama-sama duduk di kafe terkenal di dunia karena ada fasilitas wifi-nya, dengan pesanan minuman paling murah, ukuran kecil, bisa duduk berjam-jam tanpa diusilin, seperti kebanyakan kafe Turki lainnya, yang tak sempat gelas kosong sedetik langsung 'dirampas' seolah menyuruh pengunjungnya cepat pergi.

10 Desember 2011, bisa jadi hari biasa. Menjelang malam, setelah puas berselancar di dunia maya, mencari bahan kuliah, bersosial-media, mengobrol, dan melepas penat selama seminggu yang padat di kampus, kembali lagi ke hostel untuk istirahat seharian penuh besoknya. Harapannya agar Senin kembali semangat kuliah.

10 Desember 2011, bisa jadi hari biasa. Tetapi, hari itu bukan hari biasa. Hari itu Gema Ilmiah Ankara atau GIA, sebuah kelompok diskusi bagi mahasiswa Indonesia di Ankara pertama dibentuk dan memulai diskusi pertamanya. Sejak itulah, setiap dua minggu selalu ada diskusi di ruang serbaguna lantai 4, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ankara, dipinjam untuk tempat diskusi. Sejak itu pula dukungan dari Bu Dubes Nahari Agustini yang berkomitmen untuk selalu menfasilitasi tempat bagi anak-anak kreatif di Ankara terlaksana. Sejak saat itulah ibu-ibu pengajian al-Hikmah di Ankara mendapat pahala menyumbangkan makan siang ala tanah air bagi peserta diskusi. Sejak itulah terbentuk satu keluarga yang tidak berasal dari satu rahim tapi tercipta keakraban yang menggetarkan.

10 Desember 2011, bisa jadi hari biasa jika tidak ada kegelisahan yang sama atas kurangnya pengembangan soft skill di kalangan pelajar di luar negeri. Betapapun bagus kampusnya, peta pengabdian tentang Indonesia setelah tamat tidak ada di situ. Tingkat keaktifan mahasiswa Indonesia di kegiatan ekstra juga tidak menggembirakan. Spesialisasi yang didalami di kampus hanya hard skill, dan itu amat tidak cukup.

Soft skill adalah kemampuan bermasyarakat, berbeda pendapat, berdiskusi, bekerja dalam tim, peka dengan kebutuhan sekitar, berpikir kritis di ranah sosial, etos kerja, dan sebagainya. Untuk itulah GIA dibentuk. Dibesarkan. Dirawat.

GIA lebih didesain untuk pengembangan itu, karena itulah kta sepakat tidak membuatnya terlalu serius. Teman-teman sudah jenuh dengan keseriusan di kelasnya, belum lagi latar belakang disiplin ilmu yang tidak sama. Karena itu, kita punya tagline: ilmiah dikemas ngepop. Ini juga sebagai hiburan dari rutinitas yang menjemukan di kampus. Kita kumpul, berbincang bahasa ibu, tertawa dengan akrab, tetapi tetap harus ada manfaatnya.

Tak terasa, hari ini GIA berumur 2 tahun. GIA bukan lagi sebatas grup diskusi, tetapi juga sebuah keluarga. Di sini kita mengurai persoalan bersama-sama, saling mendukung, menguatkan, dan juga mengingatkan. Jadi, godaan terbesar bagi kita yang merantau adalah perasaan keterasingan, sepi, kosong, atau apa yang dinamakan dengan homeless mind, pikiran yang tak berumah. Maka kita memerlukan rumah baru. Keteduhan baru. Kehangatan baru. Keakraban baru. Kebutuhan akan hal ini tidak bisa disingkirkan, sepongah apapun manusia tidak mau mengakuinya. Maka kita harus menjaganya agar disalurkan pada jalur yang tidak melanggar norma atau membuat suram masa depan.

GIA bagi teman-teman yang aktif di dalamnya adalah keteduhan itu. Kita adalah satu keluarga. Siapapun yang punya perasaan yang sama, kegelisahan yang sama, pintu GIA terbuka lebar dan siap memeluknya dengan akrab, syaratnya tentu saja tidak apriori terlebih dulu, sebab ini benar-benar persoalan serius kita. Kita dari kecil dibesarkan di tengah budaya curiga dan benci pada yang berada di luar kelompok kita.

Jika ada yang berkata GIA terlalu santai, jawabannya iya, ini bukan untuk orang yang selalu serius. Di GIA, tujuan pertamanya bukan mengembangkan hard skill, atau keilmuan yang telah didalami oleh teman-teman di kampusnya. Di sini kadang ada memasaknya, berbagi tugas mencuci piring, membersihkan kamar mandi setelah diskusi, memastikan ruangan ditinggalkan dalam keadaan bersih, peduli akan maslaah antar sahabat, dan seterusnya.

Kedekatan itu telah bekerja seperti mesin, sebab keakraban bukan dibangun oleh jurus yang bernama es-ka-es-de (sok kenal sok dekat). Ia terdiri dari kecocokan kimiawi yang rumit. Kecocokan itulah yang melahirkan kerjasama. Kecocokan itu memudahkan kita bersinergi, kecocokan itu bahkan membuat kita lebih mudah mengidentifikasi dimana kelebihan kita, siapa yang unggul di dalam ide dan gagasan, siapa yang di ranah teknis, siapa yang pandai mengemas acara, menjual produk, mengolah keuangan dan hasil. Ini manis sekali. Gurih. Sekaligus bermanfaat untuk hidup di 'dunia nyata' saat pulang ke tanah air.

10 Desember 2011, bukan hari biasa...

Ankara, jelang 2 tahun usia GIA...

FBQ

interaksi di twitter: @farisbq

Bunga di Musim Gugur

Musim gugur, saat daun-daun tak setia pada ranting, entah betul atau tidak, musim ini membuat orang-orang juga labil. Persis seperti udara yang panas di siang hari, namun tiba-tiba ngedrop di malam hari. Suasana hati pun sering tak menentu macam dedaunan yang cepat jatuh, manusia cepat jatuh cinta, jatuh benci, jatuh sakit, jatuh galau, jatuh lapar, dan jatuh tidur.

Musim gugur seperti didesain untuk hati-hati yang rapuh. Mungkin. Untuk itulah perlu trik untuk membuat jiwa tetap kuat, cinta tetap kuat, semangat tetap kuat, juga kesehatan, selama musim gugur berlangsung.

Ada kejadian yang tersimpan di hati, yang terjadi di musim gugur kali ini. Pada satu petang beberapa hari yang lalu, ketika itu saya dan tiga orang sahabat sedang makan di sebuah restoran seafood di tengah kota Ankara. Kami memesan ikan dua porsi untuk dimakan berempat. Porsinya besar, jadi memang benar-benar cukup untuk empat orang asia yang mungil-mungil.

Kami memilih duduk di luar sebab udara lumayan bersahabat. di sebelah kami duduk seorang wanita dengan pesanannya yang sudah datang tapi belum disentuhnya. Seperti sedang menunggu seseorang. Benar saja, tak berapa lama yang ditunggu benar-benar datang, seorang pria dengan jas yang rapi, entah suami atau kekasihnya. Sang pria yang datang, tidak melalui jalan utama untuk memasuki restoran, tapi dari samping meloncat pagar pembatas yang tak begitu tinggi. Dia memberi kejutan dengan kedatangannya. Manis sekali, jika saya wanita, saya suka pria yang 'nakal' seperti ini.

Cerdas sekali pria ini, karena terbukti wanita yang menunggu tadi terkejut bahagia. Catat ya, kejutan dalam cinta selalu dihitung sebagai romantisme yang bernilai tinggi. Dan ternyata, itu bukan kejutan utamanya, sebab tiba-tiba ia mengulurkan tangan yang sebelumnya disembunyikan di belakang jasnya; beberapa tangkai mawar. Aih, gurihnya suasana hati wanita. Kebahagaiaan yang mengusir musim gugur ribuan kilometer dari tempat mereka duduk.

Bunga memang lambang klasik cinta, dapat mengungkapkan ribuan kata yang tak sempat dilafazkan oleh lisan dan kerlingan mata. Sampai hari ini, saya punya hutang kepada kekasih, belum pernah memberinya bunga, padahal sejak lama dia isyaratkan keinginannya itu. Duh, tiba-tiba bikin galau. Bunga di musim semi!

Ankara, 11 November 2013

interaksi di twitter @farisbq