Select Menu

clean-5

Wisata

Budaya

Kuliner

Manfaat Kegagalan


1. Apa reaksimu , itulah sebenarnya dirimu.

2. Banyak peran yg kita kerjakan di dunia, jd amat wajar pd salahsatunya kita gagal. Bangkitlah , sebab itu yg bedakan dirimu!

3. Kita keliru krn kdg berpikir diri kita adl superman, batman, spiderman, dll. Itu hayal. Itu bukan manusia.

4.Perasaan rendah, terpuruk, kalah, atau bersalah, stlh gagal adl manusiawi. Tp kita hrs melindungi diri agr tak berpanjangan.

5. Jgn menceritakan kisah gagal kita berulang-ulang. Itu hy melumpuhkan kemampuan menyerap hikmah dari kegagalan.

6. Jika gagal pd peran sosial, luangkan waktu utk bersendirian bbrp saat. Jika gagal dlm peran individual, keluarlah berbaur.

7. Itu membuatmu segera menyadari ada byk warna dlm hidup, dan keruntuhan pd satu bidang tdk membuat kiamat slrh kehidupan. .

8. Kegagalan kdg menyapa utk mengajari kita keterampilan melupakan. Byk penderitaan jd brkepanjangan krn tak pandai melupakan.

9. Depresi disebabkan kemampuan menghapus penderitaan melemah. Lupa, sesungguhnya, sering mjd nikmat yg amat berharga.

10. Nasehat sekuat apapun di sekelilingmu, akan lumpuh jika kau 'bertahan' mencumbui kegagalanmu. Jgn tahan, tp lupakan.

11. Kegagalan juga kdg datang utk mengoreksi optimismemu hrs realistis. Jgn menargetkan utk diri dg standar org lain.

12. Efek baik kegagalan adl emosi jd lbh kuat. Manfaat itu kdg lbh besar dari kesuksesan pd apa yg tgh kita perjuangkan.

13.Kegagalan mendidikmu lbh dewasa memutuskan sesuatu. Masa depan tak berhenti saat gagal. Kita msh akn membuat byk keputusan.

14. Dan, sering kita sadar di kemudian hari bhw kegagalan hari ini dikirim utk menyelamatkan kita dari kegagalan yg lbh fatal.

15. Kegagalan adl latihan utk jujur kpd diri sendiri akan batas kemampuan kita atau lemahnya usaha kita.

16. Kegagalan kdg semacam teguran agar kita tak egois. Sekuat apapun, kita butuh orang lain.

17. Amat penting, kegagalan adl evaluasi seberapa jauh kita pd Allah. Semua yg terjadi adl di bawah kodrat&iradah Allah.

18. Kegagalan adl masalah. Jk dg diri sndiri selesaikan saat itu juga. Jk dg org lain tunggu waktu paling tepat, jgn tergesa2.

19. Jadi, apa makna di balik kegagalan? Maknanya ada pd sikap kita , bukan saat gagal.

20. Sekian. Ini tak bermaksud menggurui, hy berbagi dari org yg pernah gagal jutaan kali. . Terima kasih.


*dari tweet @farisbq dengan hashtag #setelahgagal

Ankara, 13 Desember 2013

FBQ

Wanita Berwajah Surga yang Rutin Bertamu


"Tingtong..."

Bel berbunyi nyaring dari arah pintu rumah, sebuah apartemen di lantai dasar yang mulai kudiami bulan lalu. Siapa lagi yang bertamu pada cuaca seburuk ini? Pikirku sambil berjalan menuju pintu, menyembullah seorang wanita pemilik wajah surga. Sejak pindah ke sini, dia rutin bertamu. Dan seperti biasa, hanya sebatas pintu, tidak pernah benar-benar masuk. Aku jatuh cinta pada senyuman yang terbit dari wajah teduhnya, terbit keriangan yang terpancar dari kebaikan hatinya.

Pada kebekuan Desember, bukan tanpa perjuangan ia tetap keluar mengunjungiku dan dua orang sahabat yang tinggal seapartemen denganku di kondisi musim seperti sekarang. Sisa salju yang turun dua hari lalu masih belum pergi dari atas trotoar, bahkan jadi jelek dan licin. Cuaca, alih-alih membaik justru semakin mengintimidasi. Sudah dua-tiga kali aku mengecek aplikasi info suaca di smart phone, tak berubah : minus sembilan. Benar-benar pekan yang buruk di kota ini, udara berlari-lari pada lingkaran -3 hingga -14 derajat celcius saja.

Wanita itu kadang datang sendirian, kadang ditemani suaminya, ia adalah pemilik sebuah restoran di jalan utama yang lumayan jaraknya ke bangunan tempat kutinggal. Kami memanggilnya Teyze (bibi), tanpa tahu namanya. Wajahnya amat teduh, usianya sekira 47-52 tahun. Dia ke sini, sekali lagi, hanya sebatas pintu, tersenyum, menegur kami singkat, menyerahkan makanan dengan menu Turki yang komplit, lalu tukar menukar doa. Itu saja.

Kedatangan sepasang 'malaikat' ini tak terlepas dari jasa baik tetangga kami, juga kami panggil Teyze, juga tak kami ketahui namanya. Orang-orang ini memang suka memberi dan tidak suka dikenal. Teyze sebelah rumah kami ini telah bertamu sejak hari pertama, katanya ingin tahu siapa tetangga barunya, lalu nanya-nanya apa yang kami butuhkan. Modus banget, tapi modus baik.

Sejak itu dia mengantarkan kami banyak perabot dari mana-mana, mulai yang besar seperti kursi di ruang tamu, karpet, hingga selimut, bantal, serta perabot dapur. Katanya, teman-temannya di kelompok kursus Al-Qur'an di masjid amat suka memberi. Ketika dia ceritakan ada pelajar yang baru pindah, semua berlomba memberi. Begitulah rumah kami yang awalnya kosong itu terisi segala macam perlengkapan rumah dengan gratis.

Setengah bertengkar kubilang, "Sudah cukup. Sudah lengkap." Dia tak percaya. Pernah dia masuk ke rumah, seperti polisi memeriksa serata penjuru, ke ruang tamu, kamar, dapur, membuka lemari perabot masak, melongokkan kepala ke kamar, dan mendata apa-apa yang tidak ada. Besoknya, ia membawa semuanya.

Suatu hari datang lagi, membawa nama pengusaha yang dermawan, "Kalian datangi toko ini, imam masjid sudah menghubunginya dan ia akan memberi kalian semacam beasiswa tambahan tiap bulan." Kami belum sempat ke sana, juga masih berpikir-pikir, masih ada yang lebih layak.

Beberapa hari setelahnya, datanglah sahabat Teyze yang lain, pemilik restoran, ya wanita berwajah surga itu, pandangan pertama sudah mengumumkan kejernihan hati dan kebaikannya. Ia membawa makanan buat kami dan berkata lembut sekali, "Mulai hari ini kalian jangan masak ya, Nak. Kami yang akan mengantar makanan untuk kalian setiap hari. Setiap hari kecuali akhir pekan karena restoran kami tutup pada akhir pekan."

Sejak itu, wanita berwajah surga rutin mengunjungi kami. Amat mengharukan. Amat menggetarkan. Ini benar-benar kebaikan tak bersyarat. Bagaimana tidak, diberikan dengan tulus tak berharap apa-apa, rutin, yang bagus-bagus, kepada orang yang belum mereka kenal sebelumnya.

"Ya Allah, terima kasih. Balaslah mereka semua dengan surga." Kami cinta dan berdoa untukmu, Teyze. Cuma bisa itu, sambil menjinakkan hati yang bergetar haru, bermuara ke linangan bola mata yang mulai hangat di musim salju.


Ankara, 12 Desember 2013

FBQ

interaksi di twitter @farisbq

Selamat Ulang Tahun Kedua GIA

foto dari blog Gema Ilmiah Ankara

10 Desember 2011, bisa jadi hari biasa. Bangun tidur di kamar kecil berisi empat orang mahasiswa di pojok lantai 3 dekat jalan raya, shalat Shubuh di mushalla yang berada di lantai 4, lantai paling atas bangunan hostel Cebeci blok B, menunggu pagi dengan membaca, lalu membuka jendela karena berharap sinar matahari akan mengurangi kebekuan. jam depalan, turun ke kantin di lantai dasar, sarapan ekmek dengan irisan keju, sebutir telur rebus, dan beberapa biji zaitun hitam. Lalu menjelang siang berjalan-jalan menyusuri Kurtulus Park yang rimbun hingga Kizilay, pusat kota Ankara yang padat.

10 Desember 2011, bisa jadi hari biasa. Makan siang di restoran Turki pilihan, karena harganya yang murah tapi paling mengenyangkan karena ada menu nasinya, menu wajib Indonesia. Lalu bersama-sama duduk di kafe terkenal di dunia karena ada fasilitas wifi-nya, dengan pesanan minuman paling murah, ukuran kecil, bisa duduk berjam-jam tanpa diusilin, seperti kebanyakan kafe Turki lainnya, yang tak sempat gelas kosong sedetik langsung 'dirampas' seolah menyuruh pengunjungnya cepat pergi.

10 Desember 2011, bisa jadi hari biasa. Menjelang malam, setelah puas berselancar di dunia maya, mencari bahan kuliah, bersosial-media, mengobrol, dan melepas penat selama seminggu yang padat di kampus, kembali lagi ke hostel untuk istirahat seharian penuh besoknya. Harapannya agar Senin kembali semangat kuliah.

10 Desember 2011, bisa jadi hari biasa. Tetapi, hari itu bukan hari biasa. Hari itu Gema Ilmiah Ankara atau GIA, sebuah kelompok diskusi bagi mahasiswa Indonesia di Ankara pertama dibentuk dan memulai diskusi pertamanya. Sejak itulah, setiap dua minggu selalu ada diskusi di ruang serbaguna lantai 4, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ankara, dipinjam untuk tempat diskusi. Sejak itu pula dukungan dari Bu Dubes Nahari Agustini yang berkomitmen untuk selalu menfasilitasi tempat bagi anak-anak kreatif di Ankara terlaksana. Sejak saat itulah ibu-ibu pengajian al-Hikmah di Ankara mendapat pahala menyumbangkan makan siang ala tanah air bagi peserta diskusi. Sejak itulah terbentuk satu keluarga yang tidak berasal dari satu rahim tapi tercipta keakraban yang menggetarkan.

10 Desember 2011, bisa jadi hari biasa jika tidak ada kegelisahan yang sama atas kurangnya pengembangan soft skill di kalangan pelajar di luar negeri. Betapapun bagus kampusnya, peta pengabdian tentang Indonesia setelah tamat tidak ada di situ. Tingkat keaktifan mahasiswa Indonesia di kegiatan ekstra juga tidak menggembirakan. Spesialisasi yang didalami di kampus hanya hard skill, dan itu amat tidak cukup.

Soft skill adalah kemampuan bermasyarakat, berbeda pendapat, berdiskusi, bekerja dalam tim, peka dengan kebutuhan sekitar, berpikir kritis di ranah sosial, etos kerja, dan sebagainya. Untuk itulah GIA dibentuk. Dibesarkan. Dirawat.

GIA lebih didesain untuk pengembangan itu, karena itulah kta sepakat tidak membuatnya terlalu serius. Teman-teman sudah jenuh dengan keseriusan di kelasnya, belum lagi latar belakang disiplin ilmu yang tidak sama. Karena itu, kita punya tagline: ilmiah dikemas ngepop. Ini juga sebagai hiburan dari rutinitas yang menjemukan di kampus. Kita kumpul, berbincang bahasa ibu, tertawa dengan akrab, tetapi tetap harus ada manfaatnya.

Tak terasa, hari ini GIA berumur 2 tahun. GIA bukan lagi sebatas grup diskusi, tetapi juga sebuah keluarga. Di sini kita mengurai persoalan bersama-sama, saling mendukung, menguatkan, dan juga mengingatkan. Jadi, godaan terbesar bagi kita yang merantau adalah perasaan keterasingan, sepi, kosong, atau apa yang dinamakan dengan homeless mind, pikiran yang tak berumah. Maka kita memerlukan rumah baru. Keteduhan baru. Kehangatan baru. Keakraban baru. Kebutuhan akan hal ini tidak bisa disingkirkan, sepongah apapun manusia tidak mau mengakuinya. Maka kita harus menjaganya agar disalurkan pada jalur yang tidak melanggar norma atau membuat suram masa depan.

GIA bagi teman-teman yang aktif di dalamnya adalah keteduhan itu. Kita adalah satu keluarga. Siapapun yang punya perasaan yang sama, kegelisahan yang sama, pintu GIA terbuka lebar dan siap memeluknya dengan akrab, syaratnya tentu saja tidak apriori terlebih dulu, sebab ini benar-benar persoalan serius kita. Kita dari kecil dibesarkan di tengah budaya curiga dan benci pada yang berada di luar kelompok kita.

Jika ada yang berkata GIA terlalu santai, jawabannya iya, ini bukan untuk orang yang selalu serius. Di GIA, tujuan pertamanya bukan mengembangkan hard skill, atau keilmuan yang telah didalami oleh teman-teman di kampusnya. Di sini kadang ada memasaknya, berbagi tugas mencuci piring, membersihkan kamar mandi setelah diskusi, memastikan ruangan ditinggalkan dalam keadaan bersih, peduli akan maslaah antar sahabat, dan seterusnya.

Kedekatan itu telah bekerja seperti mesin, sebab keakraban bukan dibangun oleh jurus yang bernama es-ka-es-de (sok kenal sok dekat). Ia terdiri dari kecocokan kimiawi yang rumit. Kecocokan itulah yang melahirkan kerjasama. Kecocokan itu memudahkan kita bersinergi, kecocokan itu bahkan membuat kita lebih mudah mengidentifikasi dimana kelebihan kita, siapa yang unggul di dalam ide dan gagasan, siapa yang di ranah teknis, siapa yang pandai mengemas acara, menjual produk, mengolah keuangan dan hasil. Ini manis sekali. Gurih. Sekaligus bermanfaat untuk hidup di 'dunia nyata' saat pulang ke tanah air.

10 Desember 2011, bukan hari biasa...

Ankara, jelang 2 tahun usia GIA...

FBQ

interaksi di twitter: @farisbq

Bunga di Musim Gugur

Musim gugur, saat daun-daun tak setia pada ranting, entah betul atau tidak, musim ini membuat orang-orang juga labil. Persis seperti udara yang panas di siang hari, namun tiba-tiba ngedrop di malam hari. Suasana hati pun sering tak menentu macam dedaunan yang cepat jatuh, manusia cepat jatuh cinta, jatuh benci, jatuh sakit, jatuh galau, jatuh lapar, dan jatuh tidur.

Musim gugur seperti didesain untuk hati-hati yang rapuh. Mungkin. Untuk itulah perlu trik untuk membuat jiwa tetap kuat, cinta tetap kuat, semangat tetap kuat, juga kesehatan, selama musim gugur berlangsung.

Ada kejadian yang tersimpan di hati, yang terjadi di musim gugur kali ini. Pada satu petang beberapa hari yang lalu, ketika itu saya dan tiga orang sahabat sedang makan di sebuah restoran seafood di tengah kota Ankara. Kami memesan ikan dua porsi untuk dimakan berempat. Porsinya besar, jadi memang benar-benar cukup untuk empat orang asia yang mungil-mungil.

Kami memilih duduk di luar sebab udara lumayan bersahabat. di sebelah kami duduk seorang wanita dengan pesanannya yang sudah datang tapi belum disentuhnya. Seperti sedang menunggu seseorang. Benar saja, tak berapa lama yang ditunggu benar-benar datang, seorang pria dengan jas yang rapi, entah suami atau kekasihnya. Sang pria yang datang, tidak melalui jalan utama untuk memasuki restoran, tapi dari samping meloncat pagar pembatas yang tak begitu tinggi. Dia memberi kejutan dengan kedatangannya. Manis sekali, jika saya wanita, saya suka pria yang 'nakal' seperti ini.

Cerdas sekali pria ini, karena terbukti wanita yang menunggu tadi terkejut bahagia. Catat ya, kejutan dalam cinta selalu dihitung sebagai romantisme yang bernilai tinggi. Dan ternyata, itu bukan kejutan utamanya, sebab tiba-tiba ia mengulurkan tangan yang sebelumnya disembunyikan di belakang jasnya; beberapa tangkai mawar. Aih, gurihnya suasana hati wanita. Kebahagaiaan yang mengusir musim gugur ribuan kilometer dari tempat mereka duduk.

Bunga memang lambang klasik cinta, dapat mengungkapkan ribuan kata yang tak sempat dilafazkan oleh lisan dan kerlingan mata. Sampai hari ini, saya punya hutang kepada kekasih, belum pernah memberinya bunga, padahal sejak lama dia isyaratkan keinginannya itu. Duh, tiba-tiba bikin galau. Bunga di musim semi!

Ankara, 11 November 2013

interaksi di twitter @farisbq

Musim Gugur yang Cepat Berlalu


Layla, tahukah engkau apa yang dilihat oleh mataku yang tidak bisa dilihat oleh orang? Persis seperti Oktober pada tahun-tahun yang lalu, bersama daun-daun yang gugur aku dapat melihat sepi menyelinap ke cakrawala. Hawa dingin dan gusar bertarung di langit, menumpahkan kerinduan ke atas berandamu. 

Musim gugur memang datang amat ringkas, lalu berlalu dengan cepat. Tetapi ceritanya tetap tergantung di ranting-ranting kering, bahkan saat ia mulai dicumbui secara serakah oleh salju musim dingin. 

Musim gugur yang datang kali ini lebih tergesa-gesa lagi, tidak memberi kesempatan kepada kedua mataku untuk sekedar berlari-lari mengitari lorong-lorong, gedung kuno, simpang jalan, puncak menara hingga ujung bulan sabit. Tiba-tiba saja, kudapati diriku sudah terjebak di dinding tebal musim beku. 

Sialan. Apa yang merampas musim sehingga ia berlalu meninggalkan kita lebih cepat, Layla? Apakah karena tidak ada lagi telinga yang baik hati menunggu cerita dan keluh kesah kita? Atau karena kita telah kehilangan kecerdasan secara drastis, sehingga tidak mampu membedakan mana suara 'bagaimana keadaanmu?' yang keluar dari tenggorokan dan mana yang dari hati? Ini menusuk sekali. Musim gugur seperti sampai ke dasar hati. 

Menyakitkan memang, dulu setiap musim melahirkan banyak cerita, sekarang cuma menyinggahkan pertanyaan, menggelayutkan tanda tanya di dahan-dahan pikiran. Tetap awet di sana, walau daun-daun berguguran ke tanah. 

Ankara, 27 Oktober 2013 
(Saat Daylight Saving Time (DST) berlalu dan Winter Time diberlakukan)

Psikologi Lupa

Sekarang, Layla, kenapa tiba-tiba kota yang kudiami ini mirip sekali dengan Alexandriamu. Angin musim panasnya, daun-daunnya, aroma tanahnya, dan suasana kotanya. Apa ini benar atau cuma hayalan rindu yang menyesatkan?

Apapun jawabannya, itu membantah ucapanmu di stasiun kereta api pada senja terakhir aku melihatmu menuju Kairo, “Kamu akan melupakan kota ini, taman di Montaza, benteng Qeitbey, kournish, ombak laut Meditrania, dan juga melupakanku dan keluargaku,”Aku belum lupa. Aku tak mungkin lupa. Aku mencari-cari teori tentang lupa dan ingat di buku-buku filsafat hingga psikologi dan kedokteran. Tidak ada yang menarik. Termasuk teori-teori asing mengenai zat Omega 3 atau Kolin yang bertanggungjawab masalah memori, juga tentang struktur syaraf manusia yang terdiri dari seratus milyar neuron, dan lain-lain.

Yang kuingat yang sederhana saja, bahwa kita melupakan hal-hal yang kita anggap tidak penting. Titik.

Ini teori paling clear tentang ingatan, Layla. Maka aku tak bakal lupa kebaikan keluarga besarmu, ibumu sang wanita hebat, ‘Ammu Ragab sang juru selamat keluargamu, apalagi segala detail tentangmu. Apa harus kesebut rincian hidangan makan siang di rumahmu pada hari dimana kutinggalkan Alexandria saat matahari tepat tenggelam di bawah atap stasiun?

Banyak hal penting terjadi setelah itu, Layla, tetapi tidak ada yang menyaingi kotamu, oleh sebab segala kejadian penting di dalamnya. Yah, manusia hanya melupakan hal-hal yang dia anggap tidak penting.

FBQ
Interaksi di twitter @farisbq

Tiga Kota Paling Berbekas di Hati: (2) Kairo

Ke negeri manapun kaki ini melangkah, kenangan tentang kota Kairo akan selalu membayang. Kairo bukan hanya tentang sepotong pengembaraan, bukan juga hanya tentang rangkaian proses menuntut ilmu di kampus hingga memperoleh ijazah sarjana. Kairo jauh melampaui itu semua.

Kairo adalah kisah cinta yang mengombak tanpa henti seperti alunan laut Meditrania di pantai Montaza, Alexandria. Kairo adalah luapan kerinduan yang tidak pernah kering seperti nil yang mengalir tenang membelah Mesir. Kairo adalah keangkuhan idealisme anak muda yang menyerupai tiga piramid Giza. Kairo adalah kisah klasik keteguhan pelajar seperti menara unik masjid Universitas al-Azhar.Angin sejuk musim gugur segera menerpa saat kaki saya turun dari tangga pesawat Singapore Airlines di Bandara Internasional Kairo. Setelah penerbangan 12 jam dari Bandara Changi Singapura, saya tiba di negeri seribu menara. Seperti mimpi bahwa anak dusun ini akhirnya menjejakkan kakinya di bumi al-Azhar, kiblat pendidikan Islam dari seluruh penjuru dunia.

Setelah menamatkan Madrasah Aliyah, ada seorang muhsin yang mau membayar ongkos saya ke Mesir, salah seorang jamaah pengajian paman saya di Kuala Lumpur. Inilah yang memberanikan keluarga saya mengirim saya ke Mesir. Untuk biaya selanjutnya, kakak-kakak saya berjanji akan membantu ayah saya. Perjuangan ini melibatkan banyak orang karena keterbatasan materi. Saya menguatkan diri sendiri untuk mengambil kesempatan nekat ini. Bismillah.

Saat saya sampai di Kairo, pendaftaran untuk tahun itu di al-Azhar sudah tutup. Tetapi karena banyaknya jumlah calon mahasiswa Indonesia yang datang terlambat karena urusan administrasi di tanah air, Atase Pendidikan KBRI Kairo melobi pihak al-Azhar agar para pelajar ini diberi keringanan. Berkat usaha ini kami akhirnya tetap bisa masuk, padahal perkuliahan sudah dimulai hampir sebulan. Waktu itu ujung Oktober 1997.

Awal November saya mulai aktif kuliah, jadi penghuni kota Kairo, menjalani aktifitas-aktifitas baru yang penuh gairah. Awalnya saya agak shock dengan urusan birokrasi yang rumit di Mesir, apalagi di al-Azhar yang serba manual. Ijazah yang dibawa dari Indonesia mereka coret-coret dan stempel di bagian mana saja yang mereka suka. Antrian mahasiswa asing sangat panjang. Konon, Kairo adalah kota dengan pelajar asing terbanyak di dunia, karena Universitas tertua di dunia al-Azhar. Latihan untuk bisa bersabar dimulai dari hari pertama di Mesir. Mulai dari keluar rumah harus hati-hati karena lalu lintas seperti ikan di akuarium yang bergerak semaunya, menunggu bis berpuluh-puluh menit karena tidak ada jadwal tetap angkutan umum, serta jam kerja dan istirahat yang sangat tidak disiplin.

Tentang Al-Azhar, Mesir, dan Masa-masa Krisis di negeri Kinanah akan saya posting pada tulisan tersendiri, insyaallah. Maaf yah belum bisa menulis panjang…

Salam,

FBQ
Interaksi di twitter: @farisbq



foto dari tripadvisor